RS Waa Banti: Harapan Kesehatan di Tengah Wilayah Terpencil Pegunungan Papua
TIMIKA - Di tengah pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau, sebuah rumah sakit di Desa Waa Banti menjadi simbol harapan bagi masyarakat yang sebelumnya terisolasi dari akses pelayanan kesehatan.
Pada 2017 lalu, masyarakat Desa Waa Banti, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah mengungsi akibat ketegangan yang terjadi kala itu.
“Rumah sakit yang sebelumnya ada pun rusak parah akibat ketegangan kala itu, shingga masyarakat tanpa pelayanan medis sejak 2017 hingga 2021, masyarakat terpaksa tidak mendapatkan pelayanan kesehatan," kenang Kepala Distrik Tembagapura, Thobias Yawame.
Namun, setelah masyarakat kembali ke kampung pada 2021, upaya penguatan kesehatan mulai dilakukan.
Berkat kolaborasi antara pemerintah, PT Freeport Indonesia (PTFI), dan Dinas Kesehatan, rumah sakit yang rusak dibangun kembali, bahkan jauh lebih besar dan lebih lengkap.
Direktur RS Waa Banti, dr. Anita Sanjaya, dengan penuh semangat berbicara tentang komitmen rumah sakit ini dalam memberikan pelayanan terbaik meskipun beroperasi di tengah tantangan geografis yang luar biasa.
"Kami mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Ini bukan hanya tentang fisik bangunan, tapi tentang bagaimana memberikan pelayanan yang maksimal," ujarnya.
Pelayanan medis di RS Waa Banti beroperasi 24 jam, mulai dari instalasi gawat darurat (IGD), rawat inap, hingga laboratorium dan farmasi. Dalam menghadapi keterbatasan sumber daya, dr. Anita menjelaskan bahwa mereka tetap memastikan layanan tetap berjalan lancar dengan pergantian shift tenaga medis dan penambahan staf.
Saat ini, RS Waa Banti memiliki dua dokter spesialis dan beberapa dokter umum, namun masih menghadapi tantangan besar dalam mengelola lonjakan pasien.
Tantangan di Tengah Alam
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh rumah sakit ini bukan hanya masalah medis, tetapi juga kondisi alam yang keras. Wilayah yang terletak di ketinggian 1.930 mdpl ini sering mengalami longsor, dan akses menuju rumah sakit hanya terbatas pada jalan yang dikelola PTFI.
"Saat tanah longsor datang, kami harus berjalan kaki di tengah hujan untuk mengantarkan pasokan makanan dan obat-obatan," ujar dr. Anita, mengenang pengalaman sulit yang sering mereka hadapi.
Selain itu, meski ada pasokan logistik dari PT Freeport, keterbatasan listrik dan sinyal komunikasi seringkali memperlambat proses pengiriman bantuan.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Dengan mayoritas tenaga kesehatan yang terdiri dari perempuan, RS Waa Banti bukan hanya tempat perawatan medis, tetapi juga menjadi saksi kekuatan, kesabaran, dan dedikasi luar biasa. "Kami bekerja di lingkungan yang minim fasilitas, tanpa listrik atau sinyal ponsel, namun kami semua merasa bahwa pekerjaan ini adalah panggilan hidup," ungkap dr. Anita.
Selama waktu libur atau off-shift, para tenaga kesehatan tidak dapat menikmati waktu santai seperti di tempat lain. Mereka memilih untuk tetap berada di rumah sakit, berolahraga bersama, atau berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Beberapa kali, mereka dirotasi untuk kembali ke Timika, kota terdekat, untuk bertemu keluarga. Namun, meskipun berada jauh dari keluarga, mereka tetap merasa bahagia karena bisa meringankan beban kesehatan masyarakat sekitar.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan segala keterbatasan yang ada, RS Waa Banti terus berkomitmen untuk mengembangkan fasilitas dan layanan kesehatannya.
Harapan dr. Anita dan tim medis adalah agar rumah sakit ini dapat terus berkembang, menyediakan layanan spesialis yang lebih lengkap, serta memperluas fasilitas agar bisa menangani kasus-kasus darurat lebih baik.
"Kami ingin RS Waa Banti menjadi rumah sakit yang dapat memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat dan menjadi tujuan utama bagi mereka yang membutuhkan perawatan," tambahnya.
Ke depan, RS Waa Banti berharap dapat menjadi akses pertama bagi masyarakat yang membutuhkan perawatan medis, memberikan keselamatan dan kenyamanan bagi pasien, serta meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yang selama ini tinggal di daerah yang sulit dijangkau.
Dalam perjalanan panjang ini, RS Waa Banti bukan hanya sebuah bangunan, tetapi juga simbol harapan dan perjuangan tak kenal lelah dari para tenaga medis yang siap berkorban demi penguatan kesehatan masyarakat.
Info Kontak
Vice President,
Corporate Communications
PT Freeport Indonesia
0811 173947
kkrisnat@fmi.com
Desy Saputra
External Communication Manager
Corporate Communications
PT Freeport Indonesia
0812 84817710
rsaputra24@fmi.com
Dokumen: https://shorturl.at/H5Bbb