Kebaikan Masyarakat Indonesia - Bagian 2

Jalal – Pendiri dan Komisaris, Perusahaan Sosial WISESA

Zainal Abidin – Pegiat Pemberdayaan, Dompet Dhuafa

Sangat penting untuk dingat bahwa lantaran pertanyaan dari survei Gallup yang banyak dikutip itu disandarkan pada soal donasi uang, donasi waktu kerja sosial, dan menolong orang tak dikenal dalam waktu sebulan sebelum disurvei, maka kebaikan masyarakat Indonesia yang tertinggi di dunia itu sesungguhnya menunjukkan bahwa orang Indonesia itu kerap menunjukkan kemurahhatiannya.  Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tidak menunjukkan bahwa orang Indonesia adalah yang paling besar donasinya, paling banyak waktu kerja sosialnya, atau menolong paling banyak orang.

Kerap dinyatakan dalam beberapa analisis bahwa sesungguhnya jumlah uang yang bisa didonasikan di Indonesia sangatlah besar; dan jumlah yang selama ini sudah terkumpul, masih sangat jauh dari potensi yang ada.  Apa yang terjadi ketika COVID-19 mulai mewabah menunjukkan bahwa dalam situasi tertentu, memang masyarakat Indonesia menjadi lebih pemurah. 

Penyediaan makanan untuk mereka yang terdampak, pemberian bantuan untuk masyarakat miskin yang sakit dan keluarganya, gotong royong pengadaan alat perlindungan diri dan alat kesehatan lainnya, pemberian pinjaman atau pengurangan bahkan penghapusan hutang, dan beragam cara lainnya ditempuh oleh masyarakat Indonesia kepada sesamanya.  Dan, tentu saja, itu semua membuat Pemerintah Indonesia terbantu.

Namun demikian, memang kerap diakui bahwa pemberian oleh masyarakat Indonesia utamanya terkat dengan motivasi agama, seperti menolong orang yang berada dalam kondisi kesusahan.  Suksesnya Dompet Dhuafa pada periode awal, juga suksesnya Kita Bisa hingga sekarang sangat banyak terkait dengan persepsi atas kondisi kesusahan itu.  Ketika ditawarkan peluang untuk membantu yang sedikit saja kurang jelas kaitannya dengan kondisi kesusahan itu, masyarakat Indonesia seperti surut kemurahan hatinya. 

Kalau ada pengumpulan dana untuk korban bencana alam akibat banjir dan tanah longsor, masyarakat akan berbondong-bondong untuk menyumbang.  Mereka yang memiliki kemampuan dalam penanganan situasi bencana juga bahkan kerap turun langsung menjadi relawan.  Tetapi, ketika kampanye pengumpulan dana dilakukan untuk memerbaiki DAS yang rusak agar banjir dan longsor di tempat tersebut tidak akan terjadi lagi di masa depan, ternyata sambutan masyarakat tak cukup antusias.

Sama halnya dengan kasus-kasus kesehatan.  Masyarakat Indonesia dengan mudah mengulurkan bantuan kepada mereka—orang-orang tak dikenal—yang sedang sakit.  Kampanye pengumpulan dana untuk berbagai masalah kesehatan yang berat dan membutuhkan biaya yang tinggi kerap disambut dengan antusiasme masyarakat.  Ratusan juta rupiah bisa terkumpul dalam waktu singkat.  Tetapi, ketika dicoba meminta partisipasi masyarakat untuk mendukung perbaikan sarana dan prasarana kesehatan, apalagi inisiatif promotif dan preventif agar penderitaan masyarakat bisa dicegah, tetiba dukungan jadi sulit diperoleh.

Tentu diperlukan peran pendidikan dan peningkatan kesadaran agar masyarakat Indonesia bisa melihat bahwa karena “mencegah lebih baik daripada mengobati”, seperti yang ditanamkan di benak kita sejak kecil, maka mendonasikan uang, waktu, dan sumberdaya lainnya untuk pencegahan beragam situasi ekonomi, sosial dan lingkungan yang buruk seharusnya dipandang lebih baik daripada memberikan bantuan ketika situasi buruk itu sudah terjadi.  Kita memang jauh lebih mudah iba dengan kondisi buruk yang terlihat, tetapi secara kolektif belum cukup cerdas dan strategis untuk mengambil keputusan untuk mencegah pengulangan kondisi buruk itu di masa depan.

Islam, agama yang dianut oleh majoritas rakyat Indonesia, mengajarkan betapa pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan, dan sangat menekankan pentingnya menjaga dan memerbaiki lingkungan.  Tetapi, kebanyakan Muslim di Indonesia belum melihat tindakan mendonasikan sumberdaya untuk kebersihan, kesehatan, dan lingkungan sebagai tindakan yang bermotif kepatuhan terhadap ajaran agamanya.  Oleh karena itu, pendidikan keagamaan yang lebih menyeluruh, dengan penekanan pada mencegah terjadinya keburukan, seharusnya makin ditekankan.

Tetapi, tindakan-tindakan lain juga dibutuhkan.  Kembali ke riset Doing Good Index 2020, Indonesia ditempatkan di klaster Doing Okay, naik satu klaster dibandingkan penelitian dua tahun sebelumnya yang menempatkan kita di Not Doing Enough.  Apa yang bisa membuat kita naik ke klaster Doing Better, yang di antaranya ditempati oleh Vietnam dan Filipina?  Atau bahkan, bagaimana caranya kita bisa tiba di klaster pemuncak, Doing Well, yang ditempati Singapura dan Taiwan?  Riset itu memberi tahu bahwa ada empat strategi yang perlu kita tempuh.  Keempat strategi itu akan menjadi pokok bahasan tulisan selanjutnya.     


Sumber: Kontan