Studi Kasus

Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Cakra Wikara Indonesia (CWI): Memperkuat Kapasitas Lembaga Riset Kebijakan

22/Feb/2018 - 15:41

Dalam upaya mencapai tujuan meningkatkan taraf kehidupan rakyat Indonesia melalui proses pembuatan kebijakan publik yang lebih berkualitas dengan menggunakan penelitian, analisis dan bukti secara lebih baik, pemerintah Australia dan Indonesia membentuk sebuah kerja sama yang diberi nama: Knowledge Sector Initiative (KSI), sebuah program kemitraan  untuk memperkuat kapasitas lembaga riset kebijakan dalam menghasilkan penelitian berkualitas tinggi yang mampu berperan mendorong proses pembuatan kebijakan publik berbasis bukti (evidence based).

 

KSI fase 1 berlangsung pada tahun 2013-2017 dengan menitikberatkan pada pembenahan lembaga-lembaga riset kebijakan. Secara bertahap 16 lembaga riset dipilih oleh KSI kebijakan. Secara bertahap 16 lembaga riset dipilih oleh KSI untuk menjadi mitra dengan menerima program pemberian hibah Dana Inti (Core Funding). Tujuannya adalah  untuk memperkuat kapasitas lembaga riset kebijakan melalui pengembangan organisasi, peningkatan kualitas dan komunikasi penelitian. KSI juga mendukung mitra lembaga riset melalui peer review artikel jurnal dan peer support dalam menjalankan proposal penelitian.  Salah satu mitra KSI fase 1 adalah Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia. Hasil kemitraan KSI dan Puskapol di fase 1 meliputi: pengembangan kapasitas lembaga yang mencakup penulisan dokumen rencana strategis lembaga, mendorong hasil riset untuk advokasi kebijakan, komunikasi penelitian, serta peningkatan kualitas produksi penelitian dan manajemen.

 

Saat ini KSI tengah mempersiapkan fase 2 untuk periode program 2017–2022.  KSI melakukan kemitraan dengan Cakra Wikara Indonesia (CWI) sebuah sebuah lembaga riset kebijakan independen yang beranggotakan para peneliti dari Puskapol yang terlibat langsung dalam kemitraan dengan KSI di fase 1. Kemitraan KSI dan CWI merupakan kelanjutan dari kemitraan KSI dengan Puskapol di fase sebelumnya.

 

Di KSI fase 2, CWI  bergabung dalam Aliansi Riset Kebijakan (ARK) Indonesia, yang merupakan aliansi lembaga riset mitra KSI. KSI berencana meneruskan kemitraan dengan CWI dan aliansi ini.  Fasilitasi yang diberikan kepada Aliansi sejalan dengan misi KSI ke depan, yaitu membangun sektor pengetahuan yang sehat melalui keempat area fokus: peningkatan kualitas penelitian dan komunikasinya, peningkatan dana penelitian, pembentukan sistem manajemen pengetahuan, dan diskursus publik.

 

 

PT Trakindo Utama (Trakindo) dan Yayasan Hope Indonesia (YHI): Membangun Kesiapsiagaan Bencana Melalui Pendidikan

06/Dec/2017 - 18:02

Prakarsa untuk menggalang kerja sama dalam program kesiapsiagaan bencana diwujudkan dalam program kemitraan yang dilaksanakan PT Trakindo Utama (Trakindo) sebagai inisiator bersama mitranya Yayasan Hope Indonesia. Kemitraan ini terjalin karena kedua belah pihak memiliki ketertarikan yang sama pada penanggulangan bencana, khususnya dalam bagian kesiapsiagaan bencana, sebuah fase penanggulangan bencana yang dipertimbangkan masih kurang partisipasi para pihak (terutama perusahaan swasta) yang terlibat di dalamnya.

 

Program kesiapsiagaan bencana yang dilaksanakan pada tahun 2015 ini merupakan program pelatihan bagi guru dan siswa sebagai kelompok yang rentan dari dampak bencana. Terdapat 11 SDN yang merupakan sekolah binaan Trakindo yang tersebar di wilayah-wilayah kerja Trakindo, yaitu: Palu, Merauke, Pangkalan Bun, Meulaboh, Kendari, Ambon, Kupang, Bogor, Medan, Ternate, dan Padang yang mendapatkan program pelatihan ini. Materi yang diberikan kepada para guru dan siswa meliputi: siaga menghadapi tsunami, banjir lahar dingin, angin puting beliung, kebakaran, banjir dan gempa bumi.

 

Tujuan dari program kesiapsiagaan bencana ini adalah:

  • Membangun budaya siaga dan budaya aman di sekolah dengan mengembangkan jejaring bersama para pemangku kepentingan di bidang penanganan bencana;
  • Meningkatkan kapasitas institusi sekolah dan individu dalam mewujudkan tempat belajar yang lebih aman bagi siswa, guru, anggota komunitas sekolah serta komunitas di sekeliling sekolah;
  • Menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan kebencanaan ke masyarakat luas melalui jalur pendidikan sekolah.

 

Dalam program kesiapsiagaan bencana, kedua belah pihak saling melengkapi dalam perannya masing-masing. Trakindo melibatkan 10 karyawan sebagai relawan pengajar dalam pelatihan kesiapsiagaan bencana. YHI sebagai technical advisor melibatkan expertisenya dalam pembuatan modul, serta Hope worldwide mendukung dengan melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program.

 

Program kemitraan Trakindo dan YHI tersebut menghasilkan hampir 250 guru dan 2.500 siswa telah mengikuti program kesiapsiagaan bencana.

 

Kemitraan dengan Sektor Swasta:Perangi Gangguan Akibat Kekurangan Garam Beriodium di Indonesia

05/Dec/2017 - 13:22

Indonesia adalah salah satu negara yang berisiko tinggi terhadap Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Sekitar 86,5 juta penduduk Indonesia berisiko terkena GAKI1 dan karenanya Indonesia sudah berada di lini terdepan gerakan Konsumsi Garam Beriodium untuk Semua (KGBS) sejak awal 1980an, ketika prevalensi goiter diidentifikasi. Nutrition International (NI) Indonesia bekerja untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Salah satu tujuan utama dari NI adalah untuk meningkatkan jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium cukup. Sejak 2009, NI telah melaksanakan Program Percepatan KGBS untuk mendukung Pemerintah Indonesia dalam mencapai KGBS tahun 2018.

 

KGBS adalah intervensi yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) untuk menangani GAKI pada masyarakat. Garam adalah salah satu medium yang sangat cocok untuk memenuhi asupan iodium, karena sangat efektif, harganya relatif terjangkau dan masyarakat terbiasa mengonsumsi garam setiap hari - termasuk mereka yang termasuk dalam kelas ekonomi bawah dan paling rentan terhadap GAKI.

Tanoto Foundation dan Sekolah Dasar Negeri 169/V Desa Cinta Damai: Kemitraan Berbasis Komunitas untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan di Pedesaan

19/Jul/2017 - 16:55

Kemitraan antara Tanoto Foundation dan Sekolah Dasar Negeri 169/V Desa Cinta Damai, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, berlandaskan pada rasa saling percaya dan kesamaan perhatian pada kualitas pendidikan. Bagi Tanoto Foundation, pendidikan adalah pintu gerbang bagi penghapusan lingkaran kemiskinan yang banyak menjerat keluarga di Indonesia. Bagi pemerintah daerah melalui SDN 169/V, kemitraan ini turut membantu memperbaiki sistem pendidikan dan kualitas pendidik utamanya di daerah terpencil.

 

Keduanya sepakat melaksanakan empat kegiatan yaitu (1) peningkatan kapasitas guru, (2) peningkatan minat baca (literasi) anak, (3) perbaikan infrastruktur (sarana-prasarana), dan (4) pelibatan pemangku kepentingan untuk kemajuan sekolah. Hasil dan dampak dari program tersebut di antaranya adalah pihak sekolah secara mandiri telah berhasil membangun kemitraan dengan lembaga lain seperti pemerintah desa, Koperasi Unit Desa (KUD), Puskesmas, orang tua siswa, dan pihak perusahaan di mana masing-masing mitra memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk. Selain meningkatnya jumlah mitra, SDN 169/V mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi. Dalam aspek kualitas pendidikan, SDN 169/V mencapai hasil Uji Kompetensi Guru di atas standar nasional.

 

Tantangan utama yang dihadapi di antaranya adalah jumlah siswa masih di bawah 200, kesulitan akses transportasi menuju sekolah, dan status guru yang masih honorer. Ke depannya Tanoto Foundation akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk penguatan kapasitas pelatih; serta menjadikan SDN mitra sebagai sekolah percontohan bagi lembaga pendidikan lainnya.

 

BTPN dan SB-IPB: Program Daya Tumbuh Usaha

16/Jan/2017 - 08:43

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) berfokus pada segmen masyarakat berpenghasilan rendah termasuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan masyarakat prasejahtera produktif (mass market).  BTPN meyakini nasabah mass market tidak hanya membutuhkan akses finansial, tetapi juga pelatihan dan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas usaha dan kualitas hidup mereka.

 

Untuk mewujudkan itu, BTPN mengimplementasikan sebuah program pendampingan dan pemberdayaan nasabah yang disebut Daya. Daya adalah sebuah program pemberdayaan yang dilaksanakan BTPN secara berkelanjutan dan terukur yang diperuntukkan bagi seluruh nasabah BTPN.

 

Daya memiliki tiga pilar program, yaitu Daya Sehat Sejahtera, Daya Tumbuh Usaha, dan Daya Tumbuh Komunitas. Guna meningkatkan kualitas Program Daya, khususnya Daya Tumbuh Usaha, BTPN menggandeng Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (SB-IPB) untuk ikut menyusun kurikulum pelatihan yang dibutuhkan nasabah. BTPN dan SB-IPB meyakini implementasi program Daya dapat meningkatkan kapasitas usaha nasabah.

 

Kerja sama antara BTPN dan SB-IPB dimulai pada 2009 melalui proyek pengembangan modul dan penelitian terhadap kebutuhan nasabah. Kerja sama kemudian berkembang menjadi penyusunan kurikulum, satuan acuan pengajaran dan penyempurnaan modul untuk Daya Tumbuh Usaha pada 2012. Selain penyusunan dan pengembangan kurikulum, kerja sama antara BTPN dengan SB-IPB juga meliputi survei dan evaluasi kegiatan, pemantauan dampak program terhadap penerima manfaat dan penyediaan akses terhadap jenis usaha baru.  Implementasi program didukung oleh kantor cabang dari unit bisnis BTPN di seluruh Indonesia.

 

Program Daya Tumbuh Usaha (DTU) terdiri dari 3 sub program yakni Program Informasi Usaha, Pelatihan dan Pengembangan Keterampilan dan Peluang Usaha Baru. Selain melalui pelatihan dengan metode tatap muka, pelaksanaan program Daya Tumbuh Usaha diberikan melalui poster dan flyer yang berisi informasi dan tips kewirausahaan.

 

Sebagai wujud apresiasi bagi nasabah yang telah mengikuti empat modul pelatihan, BTPN dan SB-IPB telah mewisuda lebih dari 10 ribu nasabah. Sementara jumlah peserta Daya Tumbuh Usaha mencapai 187 ribu peserta, yang dipandu oleh 160 pelatih bersertifikasi.

 

Menghadapi era digital saat ini, kurikulum yang terdapat dalam DTU nantinya juga akan mencakup pengenalan e-commerce kepada nasabah yang ingin memperluas jangkauan bisnisnya.  Upaya ini, juga melibatkan para mahasiswa untuk melatih pengusaha mikro dan kecil untuk melakukan pemasaran secara online.

 

 1 2 3 >  Last ›