Memfasilitasi Kemitraan

Pertemuan Health and Business Roundtable Indonesia (HBRI) yang hanya dapat dihadiri oleh anggota merupakan cara yang efisien untuk memfasilitasi kemitraan multi sektor.  HBRI membantu organisasi mengatasi kurangnya pemahaman atas cara bermitra, kurangnya kepercayaan, dan kurangnya keterampilan bermitra di segala sektor dan merupakan hambatan utama dalam membangun kemitraan.
HBRI membantu anggota untuk mengatasi hambatan tersebut dengan memberikan kesempatan untuk berjejaring dan saling belajar tentang bagaimana cara bermitra ketika mereka membangun kepercayaan, hubungan baik dan keahlian yang diperlukan untuk keberhasilan kemitraan.  Sebagai contoh, pertemuan HBRI yang diadakan tiap tiga bulan sekali dan bersifat off-the-record menampilkan presentasi kemitraan yang menggarisbawahi bagaimana kemitraan terbentuk, bagaimana diimplementasikan, dan apa saja hasil kemitraan tersebut.  Presentasi dibawakan oleh anggota dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.  Catatan dari pertemuan selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk penulisan studi kasus.  CCPHI memberikan bantuan teknis kepada anggota untuk menyiapkan presentasi dan studi kasus.  Presentasi tersebut membuktikan kemampuan anggota dalam berkomunikasi secara lintas sektor dan meningkatkan eksistensi komitmen mereka untuk program pembangunan yang berkelanjutan.  Anggota saling belajar tentang bagaimana meningkatkan kemampuan bermitra melalui sesi diskusi khusus.  Hasil diskusi digunakan untuk mengembangkan alat bantu yang bisa digunakan oleh anggota lain dalam meningkatkan keterampilan kemitraan mereka.

 

Sangatlah penting untuk berkonsultasi secara individual ke beberapa organisasi untuk memahami ketertarikannya dalam bermitra dan kekhawatirannya jika bermitra dengan organisasi dari sektor yang berbeda.  Setelah berkonsultasi dengan beberapa organisasi, kemudian buatlah pertemuan hanya dengan organisasi yang berminat untuk mendiskusikan bagaimana menentukan langkah selanjutnya.
Proses pembentukan Health and Business Roundtable Indonesia dimulai dengan melakukan konsultasi dengan beberapa organisasi baik secara individual maupun berkelompok untuk memahami minat dan kekhawatiran atas kemitraan yang melibatkan perusahaan.  Sebagai tindak lanjut dari konsultasi ini, CCPHI kemudian mengadakan pertemuan dengan perusahaan dan LSM untuk mendiskusikan cara-cara membantu mengatasi rasa kurang percaya yang merupakan halangan terbesar dari kemitraan, dan diakui oleh semua organisasi.  CCPHI membatasi pertemuan hanya untuk perusahaan dan LSM berdasarkan pengalaman dari Fund for Peace (FfP), sebuah LSM yang berbasis di Amerika Serikat yang berhasil menjalankan proyek untuk membangun kepercayaan antara industri pertambangan dan LSM.  Setelah peserta mendapatkan info mengenai FfP Human Rights and Business Roundtable, mereka memutuskan untuk menggunakannya sebagai model untuk mempelajari bagaimana cara bermitra.  Peserta membuat dan menyepakati tujuan, pedoman partisipasi, prosedur, isi dan jadwal dengan merujuk pada model yang digunakan oleh FfP Roundtable.  Dan kemudian lahirlah Health and Business Roundtable Indonesia (HBRI).

 

Elemen penting dari kesuksesan adalah memiliki fasilitator yang dipercaya, yang dianggap netral oleh semua sektor dan memiliki keahlian dan pengalaman yang diperlukan sesuai isu yang menjadi fokus dari kemitraan yang potensial.
CCPHI sejak awal telah berhasil membawa perusahaan dan LSM untuk duduk bersama dalam satu meja karena institusi yang terlibat yaitu Public Health Institute, The Fund for Peace, dan the Ford Foundation (organisasi donor) merupakan organisasi yang dihormati dan dipercaya oleh semua sektor.

 

Untuk proses fasilitasi yang berkesinambungan, sangatlah penting memiliki satu atau lebih organisasi lokal yang bisa berperan sebagai fasilitator.  Ada kemungkinan memerlukan waktu yang lama untuk untuk menemukan organisasi yang tepat.
Proyek CCPHI pada awalnya mengidentifikasi beberapa kandidat untuk memfasilitasi Roundtable dan kegiatan lainnya.  Namun, dengan berbagai alasan tidak ada satupun kandidat yang mampu mengambil peran tersebut.  Alasannya antara lain karena isu manajemen, ketidakmampuan mengambil komitmen baru dan persepsi bahwa mereka tidak cukup netral.  Setelah delapan belas bulan, CCPHI menemukan organisasi yang memiliki pengalaman dan hubungan yang luas di sektor bisnis dan LSM untuk mewakili CCPHI.  Sebuah LSM Indonesia yang berafiliasi dengan Universitas Indonesia, PACIVIS-UI mulai memfasilitasi sesi Roundtable dalam Bahasa Indonesia.  Kehadiran organisasi yang memiliki pengetahuan, dikenal dan dipercaya oleh semua sektor mewakili CCPHI, dan sesi Roundtable yang dijalankan oleh CCPHI dan PACIVIS-UI dalam bahasa Indonesia menambah aktif partisipasi anggota secara luas.  CCPHI bekerja lebih erat dengan anggota di luar sesi Roundtable untuk menjajagi kemitraan.  Hal ini meningkatkan rasa kebersamaan sebagai suatu komunitas di antara anggota.  Dua tahun kemudian, para anggota HBRI meminta CCPHI untuk membantu mereka menjadi "sebuah komunitas yang dapat menggunakan pengalaman kolektif untuk menginformasikan kebijakan publik bidang kesehatan".  Pada tahun 2011 akhirnya CCPHI menjadi LSM Indonesia yang menjadi pusat sumber daya untuk membangun kemitraan, juga memberikan respon atas saran anggota Roundtable.

 

Sebelum mengundang narasumber eksternal, ada baiknya untuk mencari pengalaman dan keahlian dari anggota yang ada guna membangun pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam suksesnya kemitraan.
CCPHI awalnya mengantisipasi dengan membawa pakar/narasumber dari luar untuk melatih anggota Roundtable tentang bagaimana menemukan mitra yang tepat, bagaimana berkomunikasi lintas sektor, dan bagaimana membangun keahlian dalam bermitra.  Namun, kami menemukan banyak pakar yang ada di antara anggota.  Ketika organisasi diberikan kesempatan untuk berbagi informasi dalam suasana yang saling menghargai, mereka akan membangun kepercayaan dan hubungan yang diperlukan untuk kemitraan yang akan datang.

 

Dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun momentum dan menciptakan nilai untuk mendukung sebuah forum seperti Health and Business Roundtable.  Para anggota akan mendukung proses tersebut ketika mereka menemukan bahwa forum tersebut  memberikan nilai. 
CCPHI berkonsultasi dengan anggota Roundtable secara teratur untuk membangun nilai dan melaksanakan kegiatan yang menanggapi kebutuhan dan usulan anggota.  Dari awal, CCPHI berfokus pada bagaimana membangun nilai sehingga Roundtable akan selalu bisa berkelanjutan.  Dibutuhkan waktu lebih dari satu tahun sebelum anggota mulai memberikan dukungan.  Anggota HBRI dari perusahaan sekarang menjadi tuan rumah sesi Roundtable yang dilakukan setiap tiga bulan sekali dan para anggota juga mendiskusikan cara berkontribusi untuk membuat Roundtable berkelanjutan setelah CCPHI menjadi sebuah LSM.

 

Perusahaan dan LSM bersedia bekerja sama dengan pemerintah dan melihat keterlibatan pemerintah sangat penting untuk keberlanjutan hasil kemitraan.  Ada beberapa cara untuk membantu pemerintah berinteraksi dengan perusahaan dan LSM untuk mendorong kemitraan. 
Anggota Roundtable tidak menyampaikan pendapat atas nama organisasi agar pertukaran pendapat bisa terjadi secara lebih terbuka, namun perwakilan sektor publik berbicara secara resmi mewakili institusinya.  Dengan demikian, lembaga-lembaga sektor publik tidak dapat mengikuti Roundtable.  Namun, hal ini tidak dapat menghalangi partisipasi mereka dalam kemitraan melalui Roundtable.  Kemitraan pertama yang terbentuk sebagai akibat dari Roundtable mengikut sertakan klinik kesehatan milik pemerintah daerah.  Ini terjadi melalui anggota yang sepakat membangun kemitraan di luar Roundtable.  CCPHI saat ini secara teratur membantu anggota mengadakan pertemuan di luar sesi Roundtable untuk mencari peluang kemitraan dan pertemuan ini hampir selalu melibatkan perwakilan pemerintahan.  CCPHI juga membantu institusi sektor publik untuk berinteraksi dengan anggota Roundtable, melalui rapat, atau dengan memfasilitasi komunikasi di antara mereka.

 

Berfokus pada kemitraan yang terkait dengan kesehatan adalah cara yang paling memungkinkan untuk mengajak lebih banyak organisasi dalam mengeksplor kemitraan (untuk memperbaiki tingkatkesehatan). 
Tujuan utama dari CCPHI adalah meningkatkan akses kesehatan kepada lebih banyak kaum wanita.  Sejalan dengan perkembangan proyek, lingkup kemitraan yang menjadi fokus CCPHI menjadi lebih luas seiring dengan perkembangan kepentingan anggota Roundtable.  Jumlah anggotapun kian bertambah.  Jumlah organisasi dan keanekaragaman minat meningkatkan kesempatan bagi anggota untuk melihat bagaimana kesehatan dan tantangan pembangunan lainnya saling terkait; dan pentingnya menjangkau lebih banyak wanita guna menghadapi semua tantangan ini.  Roundtable juga meningkatkan peluang dan kesempatan bagi anggota dalam mengeksplorasi kemitraan untuk menghadapi tantangan pembangunan lainnya

 

Download: Memfasilitasi Kemitraan - PDF