Case Study

Knowledge Sector Initiative (KSI) dan Cakra Wikara Indonesia (CWI): Memperkuat Kapasitas Lembaga Riset Kebijakan

22/Feb/2018 - 15:47

Dalam upaya mencapai tujuan meningkatkan taraf kehidupan rakyat Indonesia melalui proses pembuatan kebijakan publik yang lebih berkualitas dengan menggunakan penelitian, analisis dan bukti secara lebih baik, pemerintah Australia dan Indonesia membentuk sebuah kerja sama yang diberi nama: Knowledge Sector Initiative (KSI), sebuah program kemitraan  untuk memperkuat kapasitas lembaga riset kebijakan dalam menghasilkan penelitian berkualitas tinggi yang mampu berperan mendorong proses pembuatan kebijakan publik berbasis bukti (evidence based).

 

KSI fase 1 berlangsung pada tahun 2013-2017 dengan menitikberatkan pada pembenahan lembaga-lembaga riset kebijakan. Secara bertahap 16 lembaga riset dipilih oleh KSI kebijakan. Secara bertahap 16 lembaga riset dipilih oleh KSI untuk menjadi mitra dengan menerima program pemberian hibah Dana Inti (Core Funding). Tujuannya adalah  untuk memperkuat kapasitas lembaga riset kebijakan melalui pengembangan organisasi, peningkatan kualitas dan komunikasi penelitian. KSI juga mendukung mitra lembaga riset melalui peer review artikel jurnal dan peer support dalam menjalankan proposal penelitian.  Salah satu mitra KSI fase 1 adalah Pusat Kajian Politik (Puskapol) Universitas Indonesia. Hasil kemitraan KSI dan Puskapol di fase 1 meliputi: pengembangan kapasitas lembaga yang mencakup penulisan dokumen rencana strategis lembaga, mendorong hasil riset untuk advokasi kebijakan, komunikasi penelitian, serta peningkatan kualitas produksi penelitian dan manajemen.

 

Saat ini KSI tengah mempersiapkan fase 2 untuk periode program 2017–2022.  KSI melakukan kemitraan dengan Cakra Wikara Indonesia (CWI) sebuah sebuah lembaga riset kebijakan independen yang beranggotakan para peneliti dari Puskapol yang terlibat langsung dalam kemitraan dengan KSI di fase 1. Kemitraan KSI dan CWI merupakan kelanjutan dari kemitraan KSI dengan Puskapol di fase sebelumnya.

 

Di KSI fase 2, CWI  bergabung dalam Aliansi Riset Kebijakan (ARK) Indonesia, yang merupakan aliansi lembaga riset mitra KSI. KSI berencana meneruskan kemitraan dengan CWI dan aliansi ini.  Fasilitasi yang diberikan kepada Aliansi sejalan dengan misi KSI ke depan, yaitu membangun sektor pengetahuan yang sehat melalui keempat area fokus: peningkatan kualitas penelitian dan komunikasinya, peningkatan dana penelitian, pembentukan sistem manajemen pengetahuan, dan diskursus publik.

 

 

PT Trakindo Utama (Trakindo) and Yayasan Hope Indonesia (YHI): Building Disaster Preparedness through Education

01/Mar/2018 - 17:46

The initiative to build cooperation in disaster preparedness program was realized in the partnership program implemented by PT Trakindo Utama (Trakindo) as an initiator with its partner, HOPE Indonesia Foundation. This partnership was started because of their shared interest on disaster management, especially in the disaster preparedness, a part of disaster management which is still considered lacking of participation from the private companies.

 

The disaster preparedness program implemented in 2015, was a training program for teachers and students as vulnerable group to natural disaster. There are 11 state elementary schools (SDN) assisted by Trakindo, located in operational Trakindo areas, namely: Palu, Marauke, Pangkalan Bun, Meulaboh, Kendari, Ambon, Kupang, Bogor, Medan, Ternate, and Padang to receive of the program.  The material given to the teachers and students included: alert against tsunamis, cold lava floods, tornados, fires, floods, and earthquakes.

 

The objectives of the program are:

  • Building a safe and secure culture in schools by developing a joint network of stakeholders in disaster management;
  • Enhancing the capacity of the school institution and individual to produce a safer place to learn for students, teachers, and school community members and the community around the school area;
  • Disseminating and developing disaster knowledge to the wider community through school education.

 

Partnership with Private Sector: a Path to Combat Iodine Deficiency through Universal Salt Iodization in Indonesia

05/Dec/2017 - 13:18

Indonesia has a high risk of Iodine De? ciency Disorder (IDD) with approximately 86.5 million of the population at risk for IDD1. Accordingly, Indonesia has been at the forefront of the Universal Salt Iodization (USI) movement since the 1980s, when the prevalence of goitre was identified.

 

Nutrition International (NI) Indonesia works to improve the health and well-being across Indonesia. One of NI's priority objectives is to increase the number of households consuming adequately iodized salt. Since 2009, NI has implemented Accelerated USI Program to support the Government of Indonesia (GOI) to reach USI by 2018.

 

World Health Organization (WHO) recommends USI to address iodine deficiency. Salt is the best medium to supply iodine. It is effective, inexpensive and commonly consumed by all, including those belonging to the lower socio economic strata as well as those prone to IDD. The main goals of the Accelerated USI program are:

- To increase the availability of domestically-produced quality iodized salt.
- To reduce non-iodized salt in West Nusa Tenggara province and the eastern part of Indonesia.

Tanoto Foundation dan Sekolah Dasar Negeri 169/V Desa Cinta Damai: Kemitraan Berbasis Komunitas untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan di Pedesaan

19/Jul/2017 - 17:09

Kemitraan antara Tanoto Foundation dan Sekolah Dasar Negeri 169/V Desa Cinta Damai, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, berlandaskan pada rasa saling percaya dan kesamaan perhatian pada kualitas pendidikan. Bagi Tanoto Foundation, pendidikan adalah pintu gerbang bagi penghapusan lingkaran kemiskinan yang banyak menjerat keluarga di Indonesia. Bagi pemerintah daerah melalui SDN 169/V, kemitraan ini turut membantu memperbaiki sistem pendidikan dan kualitas pendidik utamanya di daerah terpencil.

 

Keduanya sepakat melaksanakan empat kegiatan yaitu (1) peningkatan kapasitas guru, (2) peningkatan minat baca (literasi) anak, (3) perbaikan infrastruktur (sarana-prasarana), dan (4) pelibatan pemangku kepentingan untuk kemajuan sekolah. Hasil dan dampak dari program tersebut di antaranya adalah pihak sekolah secara mandiri telah berhasil membangun kemitraan dengan lembaga lain seperti pemerintah desa, Koperasi Unit Desa (KUD), Puskesmas, orang tua siswa, dan pihak perusahaan di mana masing-masing mitra memberikan sumbangan dalam berbagai bentuk. Selain meningkatnya jumlah mitra, SDN 169/V mendapatkan berbagai penghargaan di tingkat kecamatan, kabupaten, bahkan provinsi. Dalam aspek kualitas pendidikan, SDN 169/V mencapai hasil Uji Kompetensi Guru di atas standar nasional.

 

Tantangan utama yang dihadapi di antaranya adalah jumlah siswa masih di bawah 200, kesulitan akses transportasi menuju sekolah, dan status guru yang masih honorer. Ke depannya Tanoto Foundation akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk penguatan kapasitas pelatih; serta menjadikan SDN mitra sebagai sekolah percontohan bagi lembaga pendidikan lainnya.

 

BTPN dan SB-IPB: Program Daya Tumbuh Usaha

13/Sep/2017 - 08:19

PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) focuses on micro-, small- and medium-scale enterprises (MSME), and low-income communities (mass market). BTPN believes that mass market customers do not only need financial access but also training and mentoring to improve their business capacity and quality of life.

 

To fulfill those needs, BTPN implemented a coaching and customer empowerment program called Daya. Daya is organized in a sustainable and measurable manner and aimed at all of BTPN customers.

 

Daya Program consists of three pillars: Daya Sehat Sejahtera (Health and Wellness), Daya Tumbuh Usaha (Entrepreneurial Growth/DTU), and Daya Tumbuh Komunitas (Community Development). To improve the quality of Daya Program, particularly the Daya Tumbuh Usaha, BTPN partnered with the Bogor Institute of Agriculture’s Business School (SB-IPB) to develop training curriculum based on customers’ need. BTPN and SB-IPB believe that the implementation of Daya program can improve the customers’ business capacity.

 

The partnership between BTPN and SB-IPB initially started in 2009 to develop the module and to conduct customer need assessment. Later on in 2012, they began to develop the curricula, teaching references unit, and module improvements. The partnership between BTPN and SB-IPB also includes survey and evaluation of the activity, program monitoring of its impact on beneficiaries, and access for new business. The program implementation is supported by BTPN branch offices throughout Indonesia.

 

Daya Tumbuh Usaha or Entrepreneurial Growth (DTU) program consists of 3 sub-programs, namely Business Information Program; Skills Development; and New Business Opportunity Trainings. Besides in-class training, DTU program also disseminates information and entrepreneurial tips through posters and flyers.

 

There are more than 10,000 customers who have participated in BTPN & SB-IPB’s 4-module training program. In total, there are 187,000 customers who have participated in DTU program facilitated by 160 certified trainers.

 

Due to today’s digital era, the DTU’s curricula will also include introduction to e-commerce for those who wanted to expand their businesses. For this, BTPN involves college students to train the micro- and small-entrepreneurs in online marketing.

 

 1 2 3 >  Last ›