EPSP

EPSP Angkatan 7

EPSP Angkatan 7


EPSP Angkatan ke 7 dimulai pada bulan Maret hingga Mei 2018 dan diikuti oleh 19 peserta yang berasal dari sektor swasta, LSM dan pemerintah. 

Berbeda dengan EPSP di angkatan-angkatan sebelumnya, kegiatan field trip ditambahkan sebagai materi pengetahuan kepada seluruh peserta dengan bersama-sama mengunjungi sentra batik Trusmi di Cirebon. Sentra batik ini adalah wujud kemitraan dan hasil binaan dari Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) pada masyarakat pembatik di Cirebon. Tujuan field trip ini adalah agar sebelum para peserta turun ke lapangan dalam rangka membangun prototype kemitraan, masing-masing peserta bisa memahami terlebih dahulu situasi para stakeholders dalam suatu kemitraan yang sedang berlangsung. 

Sebagai syarat akhir, para peserta EPSP membangun prototype program kemitraan berdasarkan pengetahuan yang didapat selama mengikuti kelas EPSP dan kunjungan lapangan. 

Hasil prototype yang dibangun oleh 3 kelompok pada Angkatan 7 adalah:

  • Kelompok 007 Kiansantang membangun kemitraan untuk mengangkat potensi Kopi Garut, Memberdayakan Ekonomi Petani Kopi dan Lingkungan. 
  • Kelompok SDGs Warrior membangun kemitraan untuk Penguatan Layanan Publik di Tingkat Kota dengan fokus area di Salatiga. 
  • Kelompok Nduma Pakpak membangun kemitraan dengan mengangkat Wisata Sehat Berbudaya dengan fokus area Pakpak Bharat.

Peserta:

Bisnis

  • Cynthia Rosaline Triyana – Assistant to Board of Directors, PT Medco Intidinamika 
  • Decky Kristanto – Daya Tumbuh Komunitas Lead, Bank BTPN 
  • Inosensius Jemabut – Redaktur, SHNet 
  • Muhammad Burmansyah – Jr. Manager, PT Pupuk Kaltim 
  • Peppy Fachrial – Head of Corporate Human Capital, Medco Group 
  • Sinta Rachmawati – Marketing, Tempo Institute 
  • Rukmi Hapsari – Reporter, MajalahCSR.id 
  • Viriyendra Almatsier – CEO, Impro

Organisasi Nirlaba

  • Adrian Azhar Wijanarko – Dosen, Universitas Paramadina 
  • Aflakhur Ridlo – Sekretaris Jenderal, Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia 
  • Mashita Achmad Syukri – Ketua, Yayasan Persyada Al Haromain 
  • Mochammad Fadjar Wibowo – Outreach and Partnership Coordinator, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives 
  • Rienda Liem – Founder, Project Semesta

Pemerintah

  • Deli Mariaty Banurea – Kepala Sub Bagian Pengadaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembangunan,  Pemkab Pakpak Bharat 
  • Helmy Desiyanto – Fungsional Madya, Bapelitbangda Salatiga 
  • Maharani Fara – Analis KTLN, Kementerian Sekretariat Negara 
  • Nani Rohaeni – Analis Kebijakan Ahli Madya, Pemda Kab. Garut 
  • Sukur Prayitno – Pengawas Ketenagakerjaan, Kemnaker 
  • Tresye Widiastuti – Kasi Pengawasan Norma Perlindungan Perempuan yang Bekerja pada Malam Hari, Direktorat Pengawasan Norma Kerja Perempuan, Ditjen Binwasnaker & K3, Kemnaker

Narasumber:

Andri Darusman, Kepala DAYA BTPN

Dalam konteks pengalaman profesional, saya telah berpengalaman sebagai brand marketer selama hampir 12 tahun di industri barang konsumen.

Hingga tahun 2008, saya mendapatkan kesempatan untuk bekerja di industri perbankan yang menawarkan produk/ layanan yang lebih "bermakna" di HSBC, daripada sekadar menjual sampo atau pasta gigi yang mungkin memiliki dampak yang lebih kecil dalam kehidupan orang-orang. Dari perbankan mengarah ke kesempatan lain untuk bekerja di bank milik negara - BNI - yang, merupakan kesempatan untuk bekerja untuk bangsa setelah hampir 1 tahun bekerja untuk perusahaan multinasional. Bekerja untuk sebuah BUMN benar-benar merupakan pengalaman untuk belajar tentang Indonesia seperti mikrosmos negara - dengan budaya dan perilakunya. 

Peran saya saat ini di BTPN merupakan suatu pengalaman baru dan menantang lainnya, yaitu memberdayakan nasabah untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Sesuatu yang menurut saya sangat menyenangkan ketika Anda dapat membuat dampak positif dalam kehidupan nasabah.

Saya mengukuhkan diri sebagai orang yang "easy going, fun, loving", menikah dengan 2 anak, dan menyukai musik, film, dan buku.

Arif Budimanta, Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia 

Arif Budimanta saat ini adalah Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional, sebuah badan yang ditandatangani oleh Presiden dalam bentuk Keputusan Presiden No. 8 tahun 2016 untuk mendukung keberhasilan Kabinet Presiden dalam menentukan kebijakan ekonomi dan industri. Dalam kapasitasnya, Ia juga merupakan Anggota Dewan Direktur Eximbank Republik Indonesia; Dosen Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI); Anggota dari Royal Economic Society (RES) London; Pendiri dan Penasihat Senior Indonesian Centre for Sustainable Development (ICSD); Direktur Eksekutif The Megawati Institute sejak 2008 hingga sekarang. 

Ia terpilih sebagai Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR RI) pada tahun 2009-2014 untuk komisi XI yang mengawasi isu-isu perencanaan pembangunan, keuangan dan perbankan. Arif Budimanta memperoleh gelar PhD dari Universitas Indonesia, kemudian belajar Keuangan di University of Chicago dan Kepemimpinan untuk Program Eksekutif Senior di Harvard Business School (HBS).

Beliau telah berpengalaman sebagai Konsultan Pertambangan, Minyak, Gas dan Pengembangan. Sebelumnya ia juga menjabat sebagai Staf Ahli di PT. Timah (Persero) Tbk tentang Pembangunan Berkelanjutan dan CSR.


Dian Rosdiana, Direktur Eksekutif CCPHI

Sebelum menjabat sebagai Direktur, Dian menjabat sebagai Communication Officer dan telah merancang dan menerapkan kegiatan komunikasi untuk tujuan dan sasaran CCPHI.  Dian percaya bahwa kunci keberhasilan dan keberlanjutan kemitraan adalah keterlibatan masyarakat sebagai penerima manfaat untuk turut mengambil tanggung jawab dalam menciptakan penghidupan yang lebih sehat dan sejahtera.

Dian juga memiliki pengalaman yang luas bekerja sebagai penasihat teknis, fasilitator, trainer, advokat dan manajer proyek.  Dalam menjalankan tugasnya, Dian bekerja sama dengan sector public, swasta, dan LSM di seluruh Indonesia dan memiliki pemahaman mendalam tentang bagaimana pendekatan kemitraan perlu dilaksanakan secara efektif untuk memberikan dampak positif kepada masyarakat secara berkelanjutan.  Dian telah bekerja dengan organisasi-organisasi nasional dan internasional yang beroperasi dari tingkat lokal hingga tingkat nasional di Indonesia pada berbagai masalah Kesehatan, termasuk flu burung, kesehatan reproduksi, dan remaja dan HIV & AIDS untuk turut mengambil tanggung jawab dalam menciptakan penghidupan yang lebih sehat dan sejahtera.

Prof. Dr. Emil Salim - Ahli Ekonomi, Cendekiawan

Prof. Dr. Emil Salim adalah seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi Indonesia. Emil adalah tokoh lingkungan hidup internasional yang pernah menerima The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF), suatu lembaga konservasi mandiri terbesar dan sangat berpengalaman di dunia. Ia juga penerima anugerah Blue Planet Prize pada tahun 2006 dari The Asahi Glass Foundation. Sebelumnya, pada tahun 1994, setelah menyelesaikan jabatan sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kependudukan, Emil beserta koleganya seperti Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S. Kismadi, and Nono Anwar Makarim mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan KEHATI), sebuah NGO yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Erna Witoelar, Mantan Duta Besar Khusus PBB untuk MDGs

Erna Witoelar adalah mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah pada Kabinet Persatuan Nasional, ia pernah menjadi Duta Besar khusus PBB untuk MDGs di Asia Pasifik. Erna Witoelar juga menjadi Dewan di beberapa LSM seperti di Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB), dan Dana Mitra Lingkungan (DML). Ia saat ini juga memimpin Konsorsium Filantrofi Asia Pasifik (APPC), Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD), dan ketua bersama dari Asia Pacific Water Forum (APWF). Ia adalah salah satu pendiri dan pernah menjadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Presiden Konsumen Internasional dan Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI).

Galeri:

Prof. Firmanzah, Phd – Rektor, Universitas Paramadina. Memberikan sambutan saat pembukaan acara EPSP angkatan ke-7.

Dian Rosdiana, Direktur Eksekutif CCPHI memberikan pidato saat pembukaan EPSP angkatan ke-7.

Emil Salim saat sesi pemaparan dan diskusi di kelas EPSP angkatan ke-7.

Suasana diskusi di kelas EPSP angkatan ke-7

Arief Budimanta saat memberikan pemaparan tentang Pengaplikasian SDGs dalam Good Governance.

Para peserta EPSP angkatan ke-7 setelah prosesi penyerahan sertifikat dan penyematan pin kelulusan.