EPSP

EPSP Angkatan 6

EPSP Angkatan 6

Peningkatan Kapasitas UMKM menjadi Fokus EPSP Angkatan-6


Peningkatan kapasitas UMKM menjadi fokus bagi angkatan-6 dalam membuat prototype kemitraan untuk menyelesaikan kursus Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP) yang berlangsung pada Agustus - November 2017. Angkatan ini diikuti oleh 15 peserta dari tiga sektor utama kemitraan yaitu pemerintah, perusahaan dan LSM. Setelah lulus pendidikan ini para peserta Angkatan 6 diharapkan dapat membangun kemitraan di antara ketiga sektor dengan melibatkan masyarakat, dalam mendukung program-program pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama dalam bidang pembangunan berkelanjutan. Angkatan 6 membuat prototype dengan melakukan kunjungan lapangan ke kota Cirebon dan Tanjung Enim.

EPSP adalah program pendidikan eksekutif yang merupakan hasil kolaborasi antara Universitas ParamFFadina dengan CCPHI dan didukung oleh Ford Foundation. Sebagai syarat akhir, para peserta EPSP mempresentasikan prototype program kemitraan berdasarkan pengetahuan yang didapat selama mengikuti kelas EPSP dan kunjungan lapangan. Peserta terbagi menjadi 3 kelompok dan mempresentasikan hasil prototype sebagai berikut: 1) Kelompok The Corrs: Peningkatan Kapasitas Komunitas Pengrajin Batik Desa Gamel, Cirebon; 2) Kelompok Budi’s Angels: Pengembangan Bisnis UMKM Rotan Berkelanjutan: Rattan Designer Cirebon (Radec) sebagai Pusat Pengembangan dan Pembinaan ; 3) Kelompok Kepompong: Peningkatan Taraf Ekonomi Masyarakat Tanjung Enim yang Terdampak Aktivitas Tambang.

Prototype yang dipresentasikan berlandaskan pada azas-azas pembangunan berkelanjutan. Diharapkan prototype tersebut dapat diimplementasikan oleh ketiga sektor sebagai bagian dari pemangku kepentingan tersebut.

Peserta:

Bisnis

  • Anita Kastubi – Direktur, Bicara Communications
  • Apolonius Lase – Editor Bahasa, PT Kompas
  • Elly Putranti– Head of Corporate Sustainability Department, PT Indofood
  • Septyo Cholidie – Geologist, PT PT Bukit Asam (Persero) Tbk
  • Yanuar Rusdianto – Development, Bank BTPN

Organisasi Nirlaba

  • Aditya Rikidaniel – Deputi Manager - Yayasan Indonesia Lebih Baik 
  • Budi Kurnia – Grants Manager, Ford Foundation 
  • Citra Fitri Agustina – Sekretaris, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama 
  • Danny Setyawan – Program Assistant, Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama 
  • Leonita Kusumawardhani – Direktur Pengembangan Mahasiswa, Universitas Paramadina 
  • Tutut Herlina – Direktur Eksekutif, Sinarharapan,net (SHNet)

Pemerintah

  • De Norraliana Ali Gryan - Kepala Sub Bagian KST OINP I,  Kementerian Sekretariat Negara 
  • Dedy Sani Ardi – Direktur Pengawasan Kemitraan, Komisi Pengawas Persaingan Usaha 
  • Karnedi – Guru Besar, Universitas Terbuka 
  • Yudhi Himawan– Kepala Bidang Ekonomi dan Infrastruktur, Bappeda & Litbang Kabupaten Pekalongan

Narasumber:

Adi Sasongko, Director of Health Service, Yayasan Kusuma Buana

Adi Sasongko telah lama berkecimpung dalam dunia LSM khususnya dalam bidang kesehatan sesuai dengan passiondan edukasi yang ditempuhnya. Adi menyelesaikan Sarjana Kedokteran di Universitas Indonesia dan Master dalam Perkembangan Sosial dari University of Reading, Inggris. Selain aktif di Yayasan Kusuma Buana, Adi juga merupakan seorang dosen di FKM-UI mengajar dalam hal Pengembangan dan Organisasi Kemasyarakatan, Pemasaran Sosial, dan Promosi Kesehatan.

Agus Wijayanto, Country Representative, The Westminster Foundation for Democracy

Arif Budimanta sekarang menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Industri dan Ekonomi Nasional, sebuah badan yang dibentuk melalui Keppres No. 8/2016 untuk mendukung keberhasilan Kabinet Presiden dalam menentukan kebijakan ekonomi dan industri. Selain itu Arif juga aktif sebagai anggota Dewan Direksi Indonesia Eximbank; pengajar di Universitas Indonesia; anggota Royal Economic Society (RES) London; Pendiri dan Penasihat Indonesian Center for Sustainable Development (ICSD); Direktur Eksekutif Megawati Institute dari 2008 hingga sekarang. Pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI Komisi XI yang menangani masalah perencanaan pengembangan, keuangan dan perbankan. Arif mendapatkan gelar Doktor dari Universitas Indonesia, dan melanjutkan belajar mengenai keuangan University of Chicago dan Program Kepemimpinan untuk Eksekutif Senior di Harvard Business School (HBS). Arif lama berkecimpung sebagai konsultan di perusahaan Pertambangan, Minyak, Gas dan Pengembangannya. Sebelumnya ia juga bertindak sebagai Tenaga Ahli untuk PT. Timah (Persero) Tbk di bidang Pengembangan Berkelanjutan dan CSR.

Emil Dardak, Bupati Trenggalek

Emil Dardak adalah seorang politikus dan eksekutif muda Indonesia yang menjabat sebagai Bupati Trenggalek sejak Februari 2016.  Sebelumnya Emil bekerja di World Bank Jakarta dan Media Analysis Consultant di Ogilvy serta menjadi Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia. Emil memperoleh gelar diploma dari Melbourne Institute of Business and Technology dan meneruskan pendidikan S1 di University of New South Wales.  Sedangkan gelar S2 dan S3 didapatkan dari Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Prof. Dr. Emil Salim - Ahli Ekonomi, Cendekiawan

Prof. Dr. Emil Salim adalah seorang ahli ekonomi, cendekiawan, pengajar, dan politisi Indonesia. Emil adalah tokoh lingkungan hidup internasional yang pernah menerima The Leader for the Living Planet Award dari World Wide Fund (WWF), suatu lembaga konservasi mandiri terbesar dan sangat berpengalaman di dunia. Ia juga penerima anugerah Blue Planet Prize pada tahun 2006 dari The Asahi Glass Foundation. Sebelumnya, pada tahun 1994, setelah menyelesaikan jabatan sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Kependudukan, Emil beserta koleganya seperti Koesnadi Hardjasoemantri, Ismid Hadad, Erna Witoelar, M.S. Kismadi, and Nono Anwar Makarim mendirikan Yayasan Keanekaragaman Hayati (Yayasan KEHATI), sebuah NGO yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan.

Erna Witoelar, Mantan Duta Besar Khusus PBB untuk MDGs

Erna Witoelar adalah mantan Menteri Permukiman dan Pengembangan Wilayah pada Kabinet Persatuan Nasional, ia pernah menjadi Duta Besar khusus PBB untuk MDGs di Asia Pasifik. Erna Witoelar juga menjadi Dewan di beberapa LSM seperti di Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB), dan Dana Mitra Lingkungan (DML). Ia saat ini juga memimpin Konsorsium Filantrofi Asia Pasifik (APPC), Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD), dan ketua bersama dari Asia Pacific Water Forum (APWF). Ia adalah salah satu pendiri dan pernah menjadi Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dan Presiden Konsumen Internasional dan Yayasan Konsumen Indonesia (YLKI).

Milawarma - President Director, PT Bukit Asam Tbk

Milawarma adalah profesional yang menjabat sebagai Direktur Utama PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) sejak tahun 2011. Sebagai direktur utama Milawarma melakukan transformasi di PTBA yang semula sebagai perusahaan tambang batubara menjadi perusahaan yang ramah lingkungan dengan mengembangkan energi terbarukan. Milawarma mendapatkan banyak penghargaan seperti The Best CEO 2014 - rank 4 (SWA, Dunamis, Ipphos), The Best CEO Listed Company 2014 (Anugerah Business Review), The Best Green CEO 2014 (Warta Ekonomi), The Most Inspirational CEO 2014 (Men's Obsession), The Best Enterpreneur 2014 (Asia Pacific Entrepreneurship Award/APEA 2014) dll.

Maria R. Nindita Radyati, Executive Director of CECT & Founding Director of MM-CSR Trisakti University

Dr. Maria Rosaline Nindita Radyati telah mengajar di Fakultas Ekonomi, Universitas Trisakti lebih dari 22 tahun. Dia yang mendirikan MM CSR, Program Master dengan spesialiasi kewajiban perusahaan/ corporate responsibility yang merupakan satu-satunya program dengan spesialisasi CSR di Indonesia.


Nita juga telah lebih dari 10 tahun melakukan riset dengan skala internassional dan menjadi narasumber berbagai  pelatihan, seminar, dan workshop. Keahlian utamanya di bidang corporate social responsibility (CSR), sustainability strategic design, sustainability reporting, social (community) entrepreneurship, curriculum creation and development, third sector organization (TSO), social innovation and organizational learning, dan pemerintahan.


Nita adalah Direktur Center for Entrepreneurship, Change, and Third Sector (CECT-USAKTI), yang merupakan pusat riset di bawah program pascasarjana Universitas Trisakti, dan juga ditunjuk sebagai Kepala Divisi Indonesian CSR Consortium and head of the education division of the Association of Risk Management Practitioners (ARMP). Dia juga sebagai Direktur Program di MM-CSR Trisakti.


Sejak 2010, Nita juga sebagai penasihat dan juri dari AGF Community Entrepreneurship Challenge, British Council Indonesia dan sebagai kolumnis untuk harian sore Sinar Harapan di bagian CSR.

Galeri:

Wakil Rektor Bid. Kerjasama, Pengembangan Bisnis, & Alumni, DR. Ayu Dwi Nindyati, M.Si, membuka EPSP angkatan ke-6 (7/8). @CCPHI 2017.

Kemal Soeriawidjaja, managing Director Partnership-ID memberikan pemaparan tentang Partnership theory.  ©CCPHI 2017.

Para peserta EPSP Angkatan ke-6 foto bersama setelah acara pembukaan kelas EPSP. ©CCPHI 2017.

Suasana diskusi para peserta EPSP Angkatan ke-6.
@CCPHI 2017

Adi Sasongko, pimpinan Yayasan Kusuma Buana, membuka sesi kedua #EPSP Batch 6 di kampus Paramadina Graduate School. ©CCPHI 2017.

Para peserta bersama Prof. Firmanzah, Rektor Universitas Paramadina dan Dian Rosdiana, Direktur Eksekutif CCPHI saat acara wisuda. ©CCPHI 2017