Peliputan Media dalam Diseminasi DGI 2020 di Indonesia

Hasil Doing Good Index (DGI 2020) telah dipaparkan melalui webinar yang dilakukan oleh CCPHI pada 7 September 2020. Berikut merupakan peliputan dari media online terkait acara tersebut:

1. Analisadaily.com – “Ruth Shapiro: Kerjasama Atasi Kemiskinan” 

Dalam paparan hasil Survei Doing Good Index (DGI2020) atau Indeks Berbuat Baik yang dilakukan The Center for Asian Philanthropy and Society survei secara virtual, Dr. Ruth Shapiro, CEO CAPS mengatakan bahwa “Asia memiliki sepertiga dari kekayaan dunia, tetapi dua pertiganya termasuk dalam kategori negara miskin dunia.”  Lanjutnya, ia mengatakan bahwa saat ini merupakan kesempatan menggunakan kekayaan yang ada untuk mengentaskan kemiskinan, melindungi lingkungan, dan mempromosikan ketahanan masyarakat.

Untuk artikel selengkapnya baca: https://analisadaily.com/berita/baca/2020/09/07/1009232/ruth-shapiro-kerjasama-atasi-kemiskinan/?fbclid=IwAR3srx9a1w674smuc_WR0-CLf5U96zdqjz4ZEpuh5l1efU4h0pr1B3zeICw


2. Lensautama.com – “Upaya Menemukan Jalan Ke depan Pasca-Covid-19 Melalui Doing Good Index”

Hasil temuan DGI2020 memperjelas bahwa pemerintah, donor, dan sektor sosial harus bekerja sama, lebih dari sebelumnya, untuk membangun Asia yang lebih kuat, lebih sejahtera, dan lebih adil seiring dengan upaya kita mengatasi krisis ekonomi terkait dengan pandemi Covid-19.

Dihadapkan dengan ekonomi yang stagnan atau semakin menurun, pemerintah di Asia merasa sulit untuk mengimbangi kebutuhan yang terus meningkat dari rakyatnya.  Dalam konteks ini, sektor sosial, yang didukung oleh pendanaan dari bisnis dan individu, menjadi lebih penting dalam penyediaan layanan sosial yang vital.

Untuk artikel selengkapnya baca:   https://lensautama.com/berita-terkini/2020/09/07/upaya-menemukan-jalan-kedepan-pasca-covid-19-melalui-doing-good-index/?fbclid=IwAR0P8Qmr5RQhYv3we4XhcavuXgoA0L44R-_Xdkm5orIZdjJdQyVpXoPHGuU


3. Sinarharapan.id   “Doing Good Index Paparkan Jalan Kedepan Pasca-Covid-19 di Indonesia” 

Survei kedua Doing Good Index (DGI2020) atau Indeks Berbuat Baik yang dilakukan oleh The Center for Asian Philanthropy and Society (CAPS) mengungkapkan peran vital dari sektor sosial, dan bagaimana kontribusi negara-negara Asia yang mungkin dapat membantu atau sebaliknya menghambat sektor sosial.

Bekerja sama dengan CCPHI, studi ini mengidentifikasi peluang pemerintah Indonesia agar dapat berbuat lebih banyak untuk masyarakat, serta bagaimana donasi yang dilakukan oleh swasta/perusahaan dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.

Untuk artikel selengkapnya baca: http://sinarharapan.id/doing-good-index-paparkan-jalan-kedepan-pasca-covid-19-di-indonesia/?fbclid=IwAR0h3KOwyYGESU4FM-_WeKAWyUvk7aYHWxL3Hh05vL1CvY365H-MNqTIm14


4. Fimela.com – “Masa Pandemi Virus Corona, Catatan Indonesia Berbuat Baik dalam DGI 2020” 

The Center for Asian Philanthropy and Society melakukan survei tahunan untuk menyusun Indeks Berbuat Baik atau Doing Good Index. Dalam Doing Good Index 2020 (DGI 2020) mengungkapkan peran penting dari sektor sosial dan bagaimana kontribusi negara-negara Asia yang mungkin dapat membantu atau menghambat sektor sosial.

DGI 2020 dilakukan untuk memberikan gambaran kebijakan dan praktik yang meningkatkan amal dan mendorong sektor sosial untuk semakin berkembang dan efektif. Indeks inipun juga membantu para filantropis, pemerintah, peneliti, hingga lembaga non pemerintah bahkan masyarakat sendiri untuk memahami apa saja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pemberian filantropi di negara mereka.

Untuk artikel selengkapnya baca: https://www.fimela.com/lifestyle-relationship/read/4349853/masa-pandemi-virus-corona-catatan-indonesia-berbuat-baik-dalam-dgi-2020?fbclid=IwAR0h3KOwyYGESU4FM-_WeKAWyUvk7aYHWxL3Hh05vL1CvY365H-MNqTIm14


5. Liputan 6.com – “Mayoritas Orang Indonesia Dinilai Irasional dalam Berdonasi, Apa Penyebabnya?” 

Dalam sebuah survei yang dilakukan Charities Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2018, orang Indonesia menempati urutan pertama sebagai yang paling dermawan di dunia. Faktanya, banyak orang Indonesia tergerak membantu, bahkan cenderung spontan, kala menemukan yang kesusahan, khususnya saat bencana. Tapi, sikap orang Indonesia saat berderma atau berdonasi tidak diiringi kelogisan.

Pendapat itu dilontarkan Ketua Program Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa 2020, Zainal Abidin Sidik. "Masyarakat Indonesia suka menolong, tapi sering kali menolongnya irasional. (Demi memberi orang) berani kosongkan rekening, bahkan sampai jual rumah," katanya dalam Webinar Doing Good Index 2020, Senin (7/9/2020).

Untuk artikel selengkapnya baca: https://www.liputan6.com/lifestyle/read/4349901/mayoritas-orang-indonesia-dinilai-irasional-dalam-berdonasi-apa-penyebabnya?fbclid=IwAR299r2ObeJyNrZQaDwmiRwE-crzprHvjEdHu_cHCHc_IVabmUhyKqH68lc 


6. Kumparan.com  "Warga Indonesia Suka Berbuat Baik, Setara China dan India" 

Indonesia kembali dilibatkan dalam survei Doing Good Index (DGI) 2020 atau Indeks Berbuat Baik oleh The Center for Asian Philanthropy and Society (CAPS).

DGI adalah penelitian yang dilakukan di 18 negara di Asia untuk mengkaji faktor-faktor pendukung bagi individu atau institusi untuk berbuat baik melalui kegiatan filantropi dan investasi yang berdampak sosial.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan, status dan peringkat Indonesia di DGI 2020 meningkat dari not doing enough menjadi doing okey. Artinya, ada perbaikan dalam regulasi, kebijakan, dan infrastruktur kelembagaan yang berpengaruh pada minat dan niat untuk berbuat baik.

Indonesia masuk kategori doing okay bersama Bangladesh, China, India, Malaysia, Myanmar, Sri Lanka, dan Thailand. Sementara di kategori lainnya yaitu doing better ada Hong Kong, Japan, Korea, Pakistan, Filipina, dan Vietnam.

Untuk artikel selengkapnya baca: https://kumparan.com/kumparanbisnis/warga-indonesia-suka-berbuat-baik-setara-china-dan-india-1u9YjRJ51TP/full?fbclid=IwAR3ri3xCz_9XCsw6xqzNNWAhG_o5KJmOPXpbDYhMn6wdr_sXj8SsCGZcbME 


7. Gatra.com – "Studi CAPS-CCPHI: Filantropi Solusi Pendanaan Masa Pandemi"

Lembaga The Center for Asian Philanthropy and Society (CAPS) merilis survei kedua Doing Good Index (DGI2020) atau Indeks Berbuat Baik yang mengungkapkan peran vital dari sektor sosial, dan bagaimana kontribusi negara Asia untuk membantu sektor tersebut. Studi yang dilakukan bekerja sama dengan CCPHI itu mengidentifikasi peluang pemerintah Indonesia agar dapat berbuat banyak untuk masyarakat, serta bagaimana donasi yang dilakukan oleh swasta/perusahaan untuk memenuhi kebutuhan banyak kalangan.

CEO CAPS, Dr. Ruth Shapiro mengatakan Asia memiliki sepertiga dari kekayaan dunia, tetapi dua pertiganya termasuk dalam kategori negara miskin dunia. “Sekarang ada kesempatan unik untuk menggunakan kekayaan yang ada untuk mengentaskan kemiskinan, melindungi lingkungan dan mempromosikan ketahanan masyarakat. DGI2020 memperjelas bahwa pemerintah, donor, dan sektor sosial harus bekerja sama, lebih dari sebelumnya,” ujar Ruth dalam acara webinar Diseminasi Hasil Survei Doing Good Index 2020 pada Senin (7/9).

Untuk artikel selengkapnya baca: https://www.gatra.com/detail/news/489637?t=1&fbclid=IwAR0oa1_cqjBkwS8TVCcMhIJI3Cevd_wtvHYt9xfefhVbByJcevoOn5WyLWs


8. Kontan – "Kebaikan Masyarakat Indonesia [Bagian 1]" 

Penelitian yang dilakukan oleh Center for Asian Philanthropy and Society (CAPS) memberikan gambaran lebih mendalam tentang apa yang dapat dilakukan di Benua Asia untuk dapat mengoptimalkan kontribusi warganya dalam meningkatkan kesejahteraan bersama. Pada tanggal 7 September 2020 yang lalu, pendiri sekaligus pimpinan eksekutif CAPS, Ruth Shapiro, serta direktur riset CAPS, Mehvesh Mumtaz Ahmed berkenan memberikan presentasi atas hasil-hasil penelitian yang judul lengkapnya adalah Doing Good Index 2020 - Profiling Asia’s Social Sectors: The Path Forward. Indonesia adalah fokus dari diseminasi itu.

CAPS menghitung bahwa bahwa terdapat potensi dana sebesar USD 587 miliar per tahun yang dapat mengalir ke sektor sosial ini, termasuk dana dari masyarakat. Hal tersebut dihitung dari 2% dari seluruh GDP, yang menjadi patokan perhitungan. Jumlah tersebut setara dengan 12 kali lipat seluruh bantuan asing yang mengalir ke Asia, juga dapat memenuhi 40% kebutuhan tambahan dana untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) di kawasan ini.

Ini merupakan salah satu dari rangkaian catatan Kebaikan Masyarakat Indonesia dan ditulis oleh Jalal, Wisesa.  

Untuk artikel selengkapnya baca:  https://ccphi.org/blog/post/kebaikan-masyarakat-indonesia-bagian-1


9. Kontan – "Kebaikan Masyarakat Indonesia [Bagian 2]" 

Pemberian oleh masyarakat Indonesia utamanya terkat dengan motivasi agama, seperti menolong orang yang berada dalam kondisi kesusahan. Suksesnya Dompet Dhuafa pada periode awal, juga suksesnya Kita Bisa hingga sekarang sangat banyak terkait dengan persepsi atas kondisi kesusahan itu. Ketika ditawarkan peluang untuk membantu yang sedikit saja kurang jelas kaitannya dengan kondisi kesusahan itu, masyarakat Indonesia seperti surut kemurahan hatinya.

Kembali ke riset Doing Good Index 2020, Indonesia ditempatkan di klaster Doing Okay, naik satu klaster dibandingkan penelitian dua tahun sebelumnya yang menempatkan kita di Not Doing Enough. Apa yang bisa membuat kita naik ke klaster Doing Better, yang di antaranya ditempati oleh Vietnam dan Filipina? Atau bahkan, bagaimana caranya kita bisa tiba di klaster pemuncak, Doing Well, yang ditempati Singapura dan Taiwan?

Ini merupakan salah satu dari rangkaian catatan Kebaikan Masyarakat Indonesia dan ditulis oleh Jalal, Wisesa dan Zainal Abidin, Dompet Dhuafa.  

Untuk artikel selengkapnya baca:   https://ccphi.org/blog/post/kebaikan-masyarakat-indonesia-bagian-2


10. Kontan – "Kebaikan Masyarakat Indonesia [Bagian 3]" 

Indonesia memang mengalami peningkatan dalam empat klaster Doing Good Index 2020 dibandingkan laporan sebelumnya. Kita berpindah dari klaster Not Doing Enough ke Doing Okay. Ini adalah klaster yang paling banyak negara di dalamnya, jadi mungkin tak juga cukup bisa dibanggakan. Apalagi, Kamboja dan Nepal, yang mengisi klaster Not Doing Enough memang baru pertama kali dinilai. Di atas klaster di mana Indonesia berada, terdapat klaster Doing Better dan Doing Well. Klaster elit yang disebut terakhir ini ditempati hanya oleh Singapura dan Taiwan.

Tetapi menempatkan Indonesia dalam indeks ini memang utamanya bukan soal kebanggaan, melainkan soal bagaimana membuat orang Indonesia yang terkenal dan terbukti pemurah itu dapat mewujudkan potensi kebaikannya secara optimal. Seperti yang sudah disebutkan dalam bagian sebelumnya, Doing Good Index 2020 melihat ada empat ruang perbaikan, yaitu regulasi, insentif untuk berbuat baik, peningkatan peran pemerintah, dan peningkatan peran perusahaan.

Ini merupakan salah satu dari rangkaian catatan Kebaikan Masyarakat Indonesia dan ditulis oleh Jalal, Wisesa dan Wahyu Aris Darmono, Wisesa.  

Untuk artikel selengkapnya baca:   https://ccphi.org/blog/post/kebaikan-masyarakat-indonesia-bagian-3