Kemitraan UIN, Ford Foundation dan Zurich Membuahkan Produk Bungkesmas

Jakarta – Majalahcsr. Negara Indonesia sudah 72 tahun merdeka, tapi tidak serta merta membuat semua masyarakat mudah mengakses fasilitas kesehatan. Tidak terkecuali bagi pekerja harian, ataupun pekerja lepas. Suatu yang dicita-citakan jika dapat berobat dengan harga yang terjangkau.

Tidak jauh dari Jakarta, tepatnya di daerah Ciputat, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta beberapa kali mendapati mahasiswanya berma salah dengan keuangan. Meskipun dibantu dengan beasiswa, namun hal ini rupanya tidak lantas membuat puas pengajar di UIN. Pihaknya berpikir untuk sekaligus memperhatikan masalah kesehatan yang juga dihadapi.

Sasarannya tidak hanya mahasiswa, namun juga masyarakat sekitar yang kenyataannya berada dalam kelas menengah kebawah. Banyak pekerja lepas maupun harian yang coba dibangun kesadarannya untuk mempunyai jaminan jika terjadi sesuatu kepada dirinya. Selain itu, mereka juga diberikan kesadaran mengenai simpanan atau tabungan.

UIN mengajukan ide kepada Ford Foundation untuk program advokasi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perbaikan tingkat kesehatan mereka  yang tercover dalam program Bungkesmas. Pada awalnya program ini memberikan akses kepada masyarakat untuk mendapatkan  layanan kesehatan gratis, kemudian bertransformasi dalam bentuk akses kepada jaminan atau asuransi kesehatan, kecelakaan dan kematian. Setelah mengalami kemitraan dengan beberapa perusahaan asuransi lain, pada 2015 STF kemudian bermitra dengan Zurich.

“Kami ingin mengedukasi masyarakat untu asuransi. Banyak juga yang kesulitan ekonomi sehingga Zurich menciptakan produk-produk yang terjangkau, misalnya mencover sakit, atau kematian,” ujar perwakilan dari Zurich saat acara Forum Kesehatan & Bisnis (24/1).

Bahkan skema awal untuk berobat yang mengharuskan peserta membawa kartu, diubah hanya dengan KTP. Hal ini menyiasati kejadian-kejadian kartu peserta yang hilang, sehingga para peserta malah tidak bisa mendapatkan layanan kesehatan.

Sifat dari asuransi ini adalah santunan, bukan mengcover biaya rawat inap saja. Karena biasanya masyarakat yang dirawat tidak mempunyai pengganti penghasilan selama sakit (untuk yang bekerja dengan pendapatan harian), sehingga santunan ini dimaksudkan juga untuk membantu permasalahan ini.

“Santunan meninggal Rp20 juta. Harapannya dengan jumlah ini keluarga bisa men-set-up untuk pendapatan baru keluarga,” ujar Dr.Amelia Fauzia dari STF UIN Jakarta dari UIN.

Adalah Mardiana, seorang pekerja harian yang berkali-kali sakit. Namun dirinya tidak berani dirawat lantaran selain mengeluarkan dana, dirinya juga akan kehilangan pendapatan hariannya.

Dia-lah yang menjadi orang pertama yang mengikuti program Social Trust Fund (STF) berupa Tabungan Kesehatan Masyarakat (Bungkesmas).

Dalam setahun, Mardiana hanya perlu menyetorkan uang sebesar Rp100 ribu untuk jaminan berupa santunan untuk kesehatan, kecelakaan dan kematian. Selain itu Mardiana juga menabung minimal Rp2000 /hari untuk dana cadangan kesehatan  dan pendidikan.

Meskipun mirip dengan BPJS, namun yang membedakan adalah pengelolanya. Misalnya untuk asuransi dananya langsung ke Zurich, sedangkan untuk tabungan dikelola oleh lembaga keuangan mikro baik  BMT, koperasi, UPK juga kerjasama dengan LSM setempat.

Program Bungkesmas diinisiasi sejak 2010 dan diimplementasikan pada tahun 2011. Saat ini Bungkesmas ?sudah tersebar di 8 provinsi dan bekerjasama dengan lebih 100 lembaga keuangan mikro baik  BMT, koperasi, UPK juga kerjasama dengan LSM.

Sampai Agustus 2017 peserta Bungkesmas sudah mencapai lebih 10.000 orang. Program ini juga sudah mendapatkan persetujuan dari OJK untuk dilaksanakan.

Tantangan kedepan menurut Dr. Amelia fauzia adalah untuk mengimplementasikan program ini di lokasi lainnya. Hal terberat adalah mencari tenaga pemasar, mengingat semua yang terlibat sifatnya sukarela.

Perwakilan dari Zurich mengatakan, hal utama yang dilakukan dalam program STF ini adalah mengedukasi masyarakat untuk sadar asuransi. Namun melihat banyaknya masyarakat yang berada dalam ekonomi yang sulit, Zurich menciptakan produk-produk yang terjangkau.

“Misalnya untuk meng-cover yang sakit atau santunan kematian,” ujar perwakilan dari Zurich.

Dalam internal Zurich juga mempunyai kegiatan tahunan yang berbasis sosial dengan nama Global Community Week. Kegiatan yang dilakukan misalnya sunatan masal, pemberian kacamata gratis, ataupun bedah rumah. Dananya dikumpulkan dari karyawan, juga para direksi.

 

Ford mengarustumakan praktek bisnis  Inklusif  

Ford Foundation adalah organisasi filantopi dunia yang bekerja untuk keadilan sosial, selaras dengan  sila ke-lima Pancasila, Keadilan Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.. Salah satu program kegiatannya adalah menguatkan ketahanan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia. Salah satu dukungan Ford Foundation  adalah  membantu UIN Syarif Hidayatullah dan Zurich Insurance Indonesia (ZII) dalam menyelesaikan masalah terputusnya pendapatan masyarakat jika sakit.

“Seperti program Social Trust Fund (STF) kali ini, masyarakat yang bekerja secara informal, akan kehilangan pendapatan kalau mereka sakit dan tidak bekerja,” ujar  Program Officer dari Ford Foundation Indonesia,  Rafiuddin Palinrungi.

Walaupun ada asuransi yang meng-cover biaya perawatan selama dirawat, selain kehilangan pekerjaan atau pendapatan, setelah sembuh, mereka biasanya mempunyai hutang selama mereka dirawat. Misalnya ongkos ke rumah sakit, ataupun biaya makan keluarga selama pasien dirawat.

Rafi menuturkan, kerjasama dengan UIN Syarif Hidayatullah ini berawal dari proposal yang diajukan oleh UIN ke Ford foundation. Ford melihat proposal ini sebagai suatu terobosan dan inovasi dalam mengarusutamakan ‘inclusive financing’ sehingga memutuskan  untuk mendukung  riset dan perancangan produk yang tepat

“Misi kita sebenarnya memainstreamkan inclusive business practice, termasuk di sektor keuangan,” tambahnya lagi.

Kerjasama UIN dan Zurich dikatakan Rafi hanyalah langkah awal untuk mengajak pihak swasta terlibat dalam memberikan solusi terhadap masalah social di Indonesia. Kedepan Ford ingin mengajak lebih banyak pihak swasta untuk secara serius merancang produk dan jasanya untuk membantu meningkatkan daya tahan ekonomi masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.


Artikel diambil dari MajalahCSR.id: http://majalahcsr.id/kemitraan-uin-ford-foundation-dan-zurich-membuahkan-produk-bungkesmas/