Kebaikan Masyarakat Indonesia - Bagian 1

Penulis: Jalal
Pendiri dan Komisaris
Perusahaan Sosial WISESA


Pada tahun 2018 survei Gallup yang berjudul The World’s Most Generous Countries menempatkan Indonesia di peringkat tertinggi.  Survei itu dilaksanakan di 146 negara di dunia untuk menjawab tiga pertanyaan, yaitu apakah dalam satu bulan terakhir warga sebuah negara (1) mendonasikan uang kepada lembaga sosial, (2) mendonasikan waktu kerja sosial untuk organisasi tertentu, dan (3) menolong orang tak dikenal yang sedang membutuhkan bantuan? 

Warga Indonesia mendapatkan skor 59 dalam skala 100, sama dengan Australia.  Selandia Baru dan Amerika Serikat mendapatkan skor 58, sementara Irlandia menyusul di posisi berikutnya dengan skor 56.  Setelah 5 besar itu, negara-negara yang menyusul di bawahnya adalah Kerajaan Inggris (55), Singapura, Kenya dan Myanmar (54), lalu Bahrain (53).  Penelitian ini memberikan penegasan bahwa bangsa Indonesia memang bangsa yang pemurah.

Sebuah penelitian lainnya, di penghujung tahun 2019, CAF World Giving Index, yang dilakukan oleh Charities Aid Foundation juga menempatkan warga Indonesia di tempat terhormat.  Berbeda dengan penelitian  Gallup yang ‘hanya’ mengungkapkan hasil pertanyaan kepada 1.000 orang dewasa di setiap negara, penelitian CAF ini menggunakan data agregat penelitian Gallup selama 10 tahun.  Dengan agregasi itu, data yang disajikan oleh CAF berasal dari 1,3 juta orang yang konsisten diambil di 128 negara.

Dengan metodologi yang demikian, Indonesia tidak menempati peringkat tertinggi, melainkan ada di peringkat 10 dengan skor 50 pada skala 100.  Amerika Serikat adalah pemuncaknya dengan skor 58, disusul Myanmar dengan skor yang sama, Selandia Baru (57), Australia dan Irlandia (56), Kanada (55),  Kerajaan Inggris (54), Belanda (53), dan Sri Lanka (51), dan setelahnya baru Indonesia. 

Namun demikian, penelitian time series ini memberikan catatan khusus buat Indonesia, yaitu sebagai negara dengan petumbuhan kebaikan paling cepat di dunia selama 10 tahun terakhir.   Masyarakat Indonesia hanya mendapatkan skor 36 di tahun 2010, meningkat hingga 60 di tahun 2017, kemudian sedikit turun menjadi 59 di tahun 2018.  Ini membuat Indonesia ditempatkan pada peringkat pertama daftar biggest risers, disusul Kenya, Singapura, Malaysia, Irak, Afrika Selatan, Haiti, Rwanda, Boznia dan Herzegovina, serta Uni Emirat Arab.  Artinya, lima dari 10 negeri yang paling cepat pertumbuhan kebaikan warganya ada di Asia.

Penelitian mutakhir yang dilakukan oleh Center for Asian Philanthropy and Society (CAPS) memberikan gambaran lebih mendalam tentang apa yang dapat dilakukan di Benua Asia untuk dapat mengoptimalkan kontribusi warganya dalam meningkatkan kesejahteraan bersama.  Pada tanggal 7 September 2020 yang lalu, pendiri sekaligus pimpinan eksekutif CAPS, Ruth Shapiro, serta direktur riset CAPS, Mehvesh Mumtaz Ahmed berkenan memberikan presentasi atas hasil-hasil penelitian yang judul lengkapnya adalah Doing Good Index 2020 - Profiling Asia’s Social Sectors: The Path Forward.  Indonesia adalah fokus dari diseminasi itu.

Apa saja hasil-hasil yang paling menonjol dari diskusi yang diselenggarakan secara kolaboratif bersama CCPHI, Filantropi Indonesia dan Dompet Dhuafa tersebut?  Ada banyak sekali yang menarik.  Tentu, yang penting untuk diingat adalah konteks bahwa sektor sosial di Asia—sama dengan apa yang sedang dihadapi negara-negara di seluruh dunia—sedang menghadapi wabah COVID-19.  Dalam situasi seperti itu, sektor sosial tentu tidak sekadar diharapkan berperan dalam memberikan layanan kepada masyarakat seperti biasanya.  Mereka juga diharapkan dan memang terlibat secara langsung dalam penyediaan bantuan pangan, penyediaan bantuan kesehatan, penyediaan bantuan pinjaman dan hibah, dan pemberian dukungan terhadap inisiatif-inisiatif pemerintah.

CAPS menghitung bahwa bahwa terdapat potensi dana sebesar USD587 miliar per tahun yang dapat mengalir ke sektor sosial ini, termasuk dana dari masyarakat.  Hal tersebut dihitung dari 2% dari seluruh GDP, yang menjadi patokan perhitungan.  Jumlah tersebut setara dengan 12 kali lipat seluruh bantuan asing yang mengalir ke Asia, juga dapat memenuhi 40% kebutuhan tambahan dana untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) di kawasan ini.

Tetapi, jumlah dana sebesar itu masih jauh dari terwujud.  Walaupun, sebagaimana yang digambarkan pada kedua penelitian terdahulu, orang-orang Asia adalah di antara yang paling pemurah di seluruh dunia, namun ada tiga tantangan yang perlu diatasi agar peluang besar itu bisa terwujud.  Pertama, menguatkan insentif untuk berbuat baik.  Kedua, mengatasi defisit kepercayaan.  Ketiga, memaksimumkan aliran investasi sosial perusahaan.  Bagaimana detail tantangan-tantangan itu serta apa saja rekomendasi tindakan yang perlu diambil akan menjadi pembahasan pada tulisan berikutnya.     


Sumber: KONTAN, 10 September 2020