EPSP Batch 7 Dok. Paramadina

EPSP Batch 7 Sudah Mencapai Final

Jakarta – Majalahcsr. Executive Program for Sustainable Partnership (EPSP) sudah mencapai tahap akhir. Pada Rabu (2/5), 3 kelompok yang termasuk kedalam batch 7 mempresentasikan prototype yang menjadi tugas akhir EPSP di hadapan Direktur Eksekutif CCPHI, Dian Rosdiana dan Kaprodi PGSB, Handi Risza.

Prototype tersebut disusun setelah masing-masing kelompok melakukan sensing atau studi lapangan. Kelompok 1 yang bernama 007 Kiansantang membawa prototype dengan judul “Mengangkat (Potensi) Kopi Garut, Berdayakan Ekonomi Petani Kopi dan Lingkungan”.

Kelompok 2 yang bernama SDGs Warrior membawa prototype yang berjudul “Sigap Dampingi Warga, Setia Lindungi Keluarga. Program Integrasi Sistem Informasi dan Komunikasi untuk Pendampingan Warga Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Serta Perlindungan Perempuan, Anak & Keluarga”. Kemudian kelompok 3 yang bernama Nduma Pakpak membawakan presentasi prototype dengan judul “Wisata Sehat Berbudaya, Potensi Negeri di Atas Awan, di Kabupaten Pakpak Bharat”.

Beberapa masukan menjadi bekal saat esoknya, Kamis (3/5), masing-masing kelompok kembali mempresentasikan protorypenya di hadapan Ketua Badan Pengarah Filantropi Indonesia, Erna Witoelar, serta para tamu undangan.

Hadir juga pada hari itu, Rektor Universitas Paramadina Firmanzah, Direktur Executive CCPHI, Dian Rosdiana, Kaprodi PGSB, Handi Riza. Acara ini digelar di gedung pasca sarjana Paramadina, Tempo Institute lantai 7.

Handi mengapresiasi peserta dan narasumber selama acara berlangsung sejak 5 Maret 2018 dengan 4 Sesi kelas dan sensing. Kelebihan EPSP batch 7 kali ini adalah diadakannya field trip ke sentra batik Trusmi di Cirebon, hasil binaan dari Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BPTN).

Sebagai informasi, batch 8 EPSP yang diadakan berkat kerjasama antara Universitas Paramadina, CCPHI dan didukung oleh Ford Foundation juga sudah dibuka. Pelaksanaannya pada 8 Agustus 2018 hingga Oktober 2018.

Apresiasi juga datang dari Rektor Paramadina, Firmanzah atau akrab dipanggil Fiz ini. Fiz yang berasal dari bidang ekonomi ini menjelaskan bahwa teori ekonomi klasik yang menganggap bahwa kerjasama di suatu negara bukan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi sudah bergeser.

Jepang contohnya, dengan memasukkan unsur teknologi pada indikator pertumbuhan ekonominya dianggap berhasil hingga saat ini. Namun paradigma ini bergeser lagi hingga saat ini mengedepankan kerjasama dan kelembagaan yang kooperatif untuk menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi.

Dengan adanya hal ini, diharapkan para lulusan EPSP kembali pada lingkungannya dan menyebarluaskan semangat kemitraan dan kerjasama di semua bidang. “Jangan lagi saling menuding bahwa NGO hanya merecoki perusahaan, atau pemerintah dianggap tidak bisa diajak bekerjasama, atau swasta tidak mau diajak duduk bersama,” ujar Fiz.


Artikel diambil dari:http://majalahcsr.id/epsp-batch-7-sudah-mencapai-final//